Simalakama ; Dilema Pilkada di Tengah Pandemi, Tunda atau Lanjut ?

  • Whatsapp

Situbondo, Sitijenar News – Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 di tengah pandemi virus corona (Covid-19) menjadi dilema. Di satu sisi, isu kesehatan dan risiko penularan masih harus menjadi prioritas, di sisi lain, pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan itu juga tak memungkinkan untuk ditunda.

Sejumlah pihak mengkhawatirkan pelaksanaan Pilkada malah semakin meningkatkan jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia. Hingga Senin (7/9/2020), jumlah kasus positif sudah hampir menyentuh angka 200 ribu, atau sebanyak 196.989 orang dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Read More

Namun, penundaan Pilkada juga bukan tanpa risiko. Apalagi, belum ada kepastian tentang berakhirnya pandemi corona.

Ketua Umum LSM Siti Jenar , Eko Febrianto menilai, opsi penundaan Pilkada Serentak tak mungkin dilakukan. Menurut dia, tidak ada waktu pasti jika Pilkada harus ditunda kembali.

Sebelumnya, Pilkada Serentak 2020 sudah ditunda dari yang awalnya direncanakan pada September, diundur menjadi 9 Desember 2020.

“Pilihan untuk menghentikan (Pilkada) enggak mungkin lagi, dan kalau berhenti, kapan mulainya lagi, enggak ada pilihan lain,” kata Aktivis Asal Besuki itu. Rabu (23/9/2020).

Lebih lanjut, menurut Eko panggilan Akrabnya, jika Pilkada kembali ditunda, maka risiko resesi ekonomi juga akan muncul. Sebab, menurut dia, dengan Pilkada, ekonomi di daerah akan ikut terbantu.

Dia berpendapat penundaan Pilkada Serentak bukan pilihan realistis.

“Pandemi ini paling tidak bisa kita alami 2-3 tahun, masa pilkada kita tunda selama itu. Saya kira enggak realistis juga toh, risikonya terlalu besar,” tuturnya.

Menurut Eko Febrianto, saat ini yang paling penting dilakukan adalah dengan memperketat protokol kesehatan Covid-19. Menurut Eko, saat ini, baik pihak penyelenggara maupun peserta masih terlihat belum berkomitmen penuh menjalani protokol kesehatan Covid-19.

Ia juga menilai bahwa mitigasi pencegahan Covid-19 dalam pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 masih belum terlihat. Hal ini ditunjukkan dengan masih adanya arak-arakan atau konvoi yang dilakukan para bakal paslon saat mendaftarkan diri di tahapan pendaftaran 4-6 September.

” Sebetulnya yang kemarin terjadi sudah bisa diantisipasi, tapi saya rasa, mitigasi penyelenggara enggak ada, sehingga lolos kemarin itu,” ujarnya.

Senada Ketua APSi ( Asosiasi Pewarta Situbondo Group )Frengky Hendra Istiawan juga menilai penundaan Pilkada juga bukan langkah bijak saat ini. Menurutnya, saat ini, yang harus dilakukan KPU dan penyelenggara lain adalah mengevaluasi kerumunan yang terjadi pada tahapan pendaftaran kemarin.

” Pelanggaran-pelanggaran itu harus jadi pelajaran bagi penyelenggara dan peserta pemilu agar pada tahapan selanjutnya harus lebih awas dan serius mengikuti protokol.

Pelanggaran pada tahap pendaftaran juga menguji keberanian penyelenggara untuk tak menjadikan aturan pilkada di tengah pandemi sebagai aksesoris yang bahkan tak punya efek mendisiplinkan semua pihak agar patuh pada protokol,” Kata Ketua APSi.

Frengky menilai, persoalan pelanggaran protokol kesehatan kemarin murni kesalahan penyelenggara yang sejak awal tak serius mengantisipasi potensi pelanggaran selama tahapan Pilkada. Mereka bahkan kebingungan untuk menerapkan sanksi tegas bagi pihak-pihak yang melanggar aturan protokol kesehatan.

” Karenanya mau pilkada ditunda atau tidak jika kesiapan penyelenggara tak juga berubah, ya sama saja hasilnya,” ujar dia.

Kendati begitu, menurut Ketua APSi ( Asosiasi Pewarta Situbondo group ) jika memang keputusan politik pemerintah sudah menetapkan bahwa Pilkada Serentak tetap lanjut, maka satu-satunya jalan agar mengurangi risiko penularan adalah dengan mengetatkan aturan protokol kesehatan.

Menurut Frengky, bila hal tersebut tidak diterapkan, maka Pilkada yang seharusnya pesta demokrasi akan berubah menjadi pesta Covid-19.

“Bila itu tidak dilaksanakan atau longgar dilaksanakan, maka potensi pesta demokrasi menjadi ‘pesta kasus Covid’ besar kemungkinan akan terjadi,” tuturnya.

Oleh karena itu, Direktur Marlena Law Office & Partner, juga ikut andil menyampaikan. baik pemerintah maupun KPU sebagai penyelenggara Pilkada Serentak harus mensosialisasikan secara masif protokol kesehatan kepada masyarakat. Ia juga menyarankan agar tahapan Pilkada yang melibatkan massa dalam jumlah banyak seperti kampanye terbuka atau rapat umum tatap muka ditiadakan.

“Harusnya rangkaian kegiatan Pilkada yang melibatkan massa ditiadakan. Dan setiap calon kepala daerah diberi penjelasan aturan protokol kesehatan selama Pilkada dan sanksinya,” tutur Hendriyansyah, SH.  (sup)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *